Jumat, 19 Juni 2015

Kisah Ramadhan, Zubaida Jomaa dan Hujatan Tetangga - Inspirasi


Setiap Ramadhan, Zubaida Jomaa muslimah berumur 44 tahun, berprinsip berpuasa adalah kewajiban ibadah yang mesti dijalankan olehnya dan keluarganya. Dia selalu berjuang mengajak keluarganya untuk benar2 bisa berpuasa dengan khusuk setiap hari dan bisa berbuka puasa bersama setidaknya sekali dalam seminggu. Itu dilakukan untuk memberi nuansa Islam di tengah keluarganya. Nuansa Islam, di tengah kehidupan negeri tanggo "Brasil", adalah sesuatu yang sangat mahal.

Dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik, pemeluk agama Islam di sana tidak menonjol.

“Saya ingin melihat keluarga saya duduk bersama selama bulan suci,” ujar Zubaida, seperti ditulis dalam Islamonline.net.

Meskipun hidup dalam masyarakat barat, wanita muslim itu ingin mengajarkan anak-anaknya arti puasa selama bulan Ramadhan. Dia menjelaskan, anak-anaknya sudah belajar berpuasa sejak umur sembilan tahun. Saat itu, banyak tetangga Zubaida yang mengutuk dan menghujat dirinya karena mereka menganggap dia tidak manusiawi telah memaksa anak kecil untuk berpuasa.

“Tapi saya tahu apa yang saya lakukan sesuai agama Allah dan itu baik untuk menanamkan nilai Islam kepada anak saya,” tegas dia.

Selama Ramadhan, seperti Muslim di belahan bumi lain, Muslim di Brazil mendedikasikan waktu mereka untuk menjadi lebih dekat kepada Allah. Mereka lebih banyak berdoa, menahan diri dari hawa nafsu, dan melakukan perbuatan baik. Momentum Ramadhan juga dipergunakan untuk mempelajari Alquran yang mulia.

“Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan berkah dalam kehidupan Muslim manapun di seluruh dunia,” kata Zubaida.

Menurut sensus 2001, ada 27.239 Muslim di Brasil. Namun, Federasi Islam Brasil menempatkan angka pada sekitar satu setengah juta. Mayoritas Muslim adalah imigran keturunan Suriah, Palestina, dan Lebanon yang menetap di Brasil pada abad kesembilan belas selama Perang Dunia I dan pada 1970-an. Sebagian besar muslim tinggal di negara bagian Parana, Goias, Riod de Janeiro dan Sao Paulo. Ada juga jumlah masyarakat Muslim yang signifikan di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul.

Muslim di Brasil masih kesulitan dalam mengajarkan Islam kepada anak-anaknya. Salah satu contohnya, orangtua umumnya sulit mengajar anak-anak mereka untuk berpuasa selama bulan suci. Hal itu karena masih banyak masyarakat Brazil yang tidak mengerti ajaran agama Islam.

“Banyak orang yang mengkritik dan menuduh yang tidak baik kepada keluarga saya, karena mereka tidak mengerti, mereka tidak paham akan arti dan nilai puasa Ramadhan.” ujar Zubaidah.

Akan tetapi, dia selalu mengajarkan bahwa Ramadhan adalah saat refleksi. Muslim merasa murni dari kotoran dan berpuasa menjadikan Muslim bersikap lebih baik.

“Saya senang melihat anak-anak saya berpikir tentang makna Ramadhan yang sama,” tutup Zubaida.

***

Ini seharusnya menjadi koreksi untuk kita umat Islam di Indonesia yang mayoritas muslim. Sudah semestinyalah kita belajar dan mengambil hikmah dari kisa Zubaidah ini. Silahkan di renungkan dan sebutkan apa yang semestinya kita dapatkan dari Muslimah kuat ini...



0 komentar:

Posting Komentar