Tampilkan postingan dengan label HIKMAH KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH KISAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Kisah Seorang Kakek Yang Menggugat Pengeras Suara Masjid Dicap Sesat & Diusir Warga


Gambar
Sahabat KIM...
Saat semua orang ribut masalah pro kontra pengeras suara di masjid, bahkan sampai wakil presidenpun ikut turun tangan mengatasi masalah ini. Sampai saat ini MUI terus menelaah dan mengkaji hal2 yang berkaitan dengan hal ini. Bagaimakah Hukum pengeras suara di masjid boleh atau sebaliknya justru mengganggu prosesi ibadah orang Islam ?
Sebenarnya masalah pengeras suara dari masjid ini pada tahun 2010 sudah pernah diperkarakan lewat jalur hukum oleh seorang warga di Banda Aceh yang meras terganggu dengan suara rekaman bacaan Al Qur'an yang berlarut larut, berikut kisahnya :
Haji Sayed Hasan bin Sayed Abbas adalah seorang kakek yang berumur 75 tahun. Saat Banda Aceh diterjang tsunami yang sangat dahsyat pada 2004, ia kehilangan istri tercintanya. Sejak saat itu, ia tinggal hanya bersama seorang anaknya. Rumahnya berada sekitar 10 meter dari masjid Al Muchsinin, Gampong Jawa, Kecamatan Kutara Raja, Banda Aceh. Tahun 2010, di usia yang sudah senja itu, ia mengalami sakit jantung koroner. Dokter menyarankan ia untuk banyak istirahat.
Demi kesehatannya, ia mengikuti saran dokter. Saat bulan ramadhan, pengeras suara  masjid sangat keras volumenya dan hal itu membuat dia menjadi sulit tidur. Ia sempat berpikir mungkin ini hanya sesaat, tapi pengeras suara itu ternyata terus hidup dari menjelang shalat taraweh hingga pukul 4 dini hari. Dan hal itu terus berlangsung selama bulan Ramadhan.
Karena merasa suara speaker terlalu keras bunyinya, dia menjumpai Drs. Tgk. Muchtar Tawi selaku Imam Masjid Al Muchsinin pada saat pengajian di masjid. Ia meminta agar pengeras suara itu volumenya dikecilkan dan di atas jam 12 malam dimatikan. Namun permintaan itu ditolak oleh Tgk. Muchtar Tawi. Ia mengatakan ini adalah sebuah masjid dan tidak boleh mengecilkan suara speaker masjid. Tgk. Tawi hanya mau mengecilkan suara speakernya kalau ada fatwa dari ulama. Namun, Tgk. Tawi tidak ingin mendatangi ulama, ia hanya mau ulama yang mendatanginya. Sebagai orang kecil tentunya itu hal yang sulit. Merasa permintaannya ditolak, ia pulang ke rumah dengan perasaaan kecewa.
Karena Tgk. Tawi hanya mau mengecilkan volume pengeras suara  masjid jika ada fatwa ulama, akhirnya Tgk. Sayed pun mendatangi Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh. Dia meminta MPU memberi fatwa, namun MPU mengatakan fatwa itu hanya bisa diberikan kalau ada anggota masyarakat lain yang juga ikut menanyakan permasalahan ini. Tgk. Sayed pun kembali ke rumahnya dan mencari dukungan orang yang mempunyai permasalahan sama dengan dia. Ia mendapat 15 dukungan dan kemudian kembali ke MPU. Ternyata itu belum cukup dan ia disuruh kembali lagi dengan dukungan yang lebih banyak.
Setelah beberapa hari berlalu, dia kembali mendatangi MPU dengan 30 dukungan. Lagi lagi MPU menolaknya. Menurut MPU, harus lebih banyak lagi. Tgk. Sayed lalu bertanya kepada MPU, “ Banyaknya itu berapa? Yang pasti jumlahnya biar saya mencarikannya lagi.“ MPU hanya berkata pokoknya banyak.
Karena kecewa dan merasa dipermainkan, dia kembali ke rumah. Kemudian dia mendengar dari tetangga bahwa yang boleh mengeluarkan fatwa adalah MPU Provinsi. Mendengar itu, dia semakin kecewa dan kesal dengan sikap MPU Kota Banda Aceh. Kenapa tidak dari awal saja mereka mengatakan bahwa mereka tidak berhak mengeluarkan MPU sehingga ia tidak perlu bolak balik ke MPU Kota.
Sebelum dia berangkat menunaikan ibadah haji, ia mengirim surat Ke MPU Provinsi Aceh. Dalam surat itu, dia meminta fatwa larangan penggunaan speaker masjid secara berlebihan. Kemudian MPU membalas suratnya. Namun isi surat MPU membuat dia kecewa, karena secara substansi sudah berubah. Dalam surat itu, MPU mengatakan bahwa “Muazzin mengumandangkan azan bukanlah suatu kedhaliman, tapi merupakan panggilan tibanya waktu shalat.” Tentu ini adalah sebuah pergeseran makna. Tgk. Sayed tidak pernah meminta pelarangan azan dengan menggunakan pengeras suara. Yang diminta untuk dilarang adalah pengajian tadarus, zikir dan ceramah tape recorder dengan menggunakan pengeras suara  secara berlebihan dan pada waktu yang tidak tepat. ”Silahkan menggunakan pengeras suara , namun janganlah sampai jam 4 pagi,” ujar beliau.
Sepulang dari ibadah haji, dia kembali mendatangi imam masjid. Ia mendatangi rumah sang imam dengan harapan suasana akan berubah. Ternyata harapannya tidak sesuai kenyataan. Ia mendapat jawaban yang sama seperti sebelumnya. Kemudian ia ke Malaysia untuk mencari fatwa dari ulama Malaysia yang kemudian dia tunjukkan ke imam masjid. Imam tetap menolaknya dan berkata bahwa tulisan Arab hadist itu benar, namun terjemahannya salah. Ia sempat mengatakan, di mana pun di dunia ini hadist tetap sama, hanya redaksinya saja yang berbeda, tapi tidak dengan substansinya.
Ia juga pernah berkata bahwa ia memiliki dalil tentang larangan penggunaan pengeras suara  dengan suara yang berlebihan. Dan jika ada dalil yang menyarankan penggunaan pengeras suara secara berlebihan, ia minta agar dalil itu ditunjukkan kepadanya. ”Silahkan Tgk. beri dalil yang menganjurkan penggunaan pengeras suara yang berlebihan. Namun sampai sekarang tidak ditampakan pada saya,” ungkap Tgk. Sayed.
Karena masih mengalami hal yang sama, dia menulis surat kepada aparatur desa dan juga camat, namun tak ada respon. Akhirnya saya melaporkan permasalahan ini ke Polsek Kutaraja, Banda Aceh. Jawaban yang didapat sangat mengecewakan dirinya. “Kami tidak bisa menangani kasus bapak, karena ini berhubungan dengan orang ramai,” ujar Tgk Sayed yang mengulang jawaban Polsek Kutaraja.
Pada bulan puasa di tahun 2011 dan 2012, ia menyuruh anaknya untuk bertemu kembali dengan imam masjid, namun dia mendapatkan jawaban yang sama. Akhirnya, pada suatu pagi, karena kesal, dia pergi ke masjid dan menggeser sendiri pengeras suara itu ke arah lain. Ternyata, siangnya, massa mendatangi rumah beliau. Mereka memaksa dia untuk memutar kembali speaker masjid ke arah semula. Saat itu ia merasa terancam, sehingga akhirnya dia memutar pengeras suara kembali ke arah rumahnya, bahkan dengan suara yang lebih besar.
Setelah kejadian itu, ia kembali melapor untuk kedua kalinya ke Polsek kutaraja. Dalam laporan itu, dia melaporkan perbuatan tidak menyenangkan, namun polisi juga tidak merespon laporan tersebut. 
Akhirnya, dia memperkarakan kasus pengeras suara  ini ke Pengadilan Negeri Banda Aceh. Dalam laporannya, kasus ini sudah sampai pada tahap mediasi. Namun pada Rabu, 20 Februari 2013, massa mendatangi rumahnya dan ia dibawa ke masjid untuk mediasi. Di masjid ternyata sudah ada Wakil Walikota Banda Aceh, Sekda Banda Aceh, MPU Banda Aceh, Camat Kutaraja, imam masjid, Danramil, unsur Polresta dan Kapolsek Kuta Raja. 
Awalnya dia berpikir ini sebuah mediasi, ternyata ini adalah sebuah paksaan untuk berdamai. Tgk. Sayed setuju tetapi dengan syarat perdamaian harus sesuai dengan Sunnah Rasul. Saat itu massa sangat ramai, suara cacian dan ”bunuh” membuat ia terintimidasi. Dan tidak sampai disitu saja, Sekda sebagai utusan dari Negara mengeluarkan kata-kata penuh fitnah dan membuat Tgk. Sayed semakin terintimidasi, “ini orang yang larang mengaji dan adzan.”  
Padahal Tgk. Sayed tidak pernah melarang orang mengaji dan azan, tetapi yang dilarang adalah penggunaan speaker masjid secara berlebihan. Wakil Walikota yang merupakan orang kedua di Kota Banda Aceh pun mengeluarkan kalimat yang tidak menyenangkan, “Bikin malu orang Aceh saja.“ 
Karena merasa terintimidasi, akhirnya ia menandatangani surat di atas materai yang isinya mencabut gugatan, dan tidak akan menggugat lagi. Setelah Tgk. Sayed menandatangani surat itu, camat berkata, jika ia menggugat lagi, maka ia akan diusir dari kampong.
Sekarang masyarakat punya anggapan yang lain. Ia dianggap sesat, karena melarang orang shalat dan mengaji. Padahal ia hanya melarang penggunaaan pengeras suara  secara berlebihan.
Tgk. Sayed merasa dimusuhi, namun tidak semua masyarakat berpikir seperti itu. Ia berharap pemerintah pusat menegur Wakil Walikota dan Sekda Banda Aceh, karena tidak mengormati haknya sebagai warga negara yang mencari keadilan. Mereka telah memaksanya untuk mencabut gugatan. Selain itu, ia berharap semoga hal seperti ini tidak dialami oleh orang lain lagi.
Kebutuhan Pengeras Suara
Belajar dari apa yang dialami H. Sayed ,tentunya kita harus melihat fungsi dan kebutuhan pengeras suara di masjid. Adalah sebuah kenyataan bahwa dengan kemajuan teknologi seperti zaman sekarang ini, hampir semua masjid dan mushola di seluruh dunia telah memiliki dan menggunakan alat pengeras suara. Tujuan digunakanya alat tersebut tidak lain adalah untuk menunjang tercapainya dakwah Islam kepada masyarakat luas di dalam maupun di luar masjid. Maksudnya juga agar jamaah atau umat Islam yang tinggal agak berjauhan dari masjid dapat mendengar suara azdan. Selain itu, dengan pertumbuhan penduduk yang pesat dan jamaah masjid menjadi membludak, diperlukan pengeras suara agar suara imam atau khatib dapat didengar oleh jamaah.
Memang keberadaan pengeras suara di masjid sangat membantu dalam kegiatan dakwah Islam saat ini. Namun, kita tidak boleh berlebihan dalam menggunakannya. Tentunya sebagai manusia, ada segelintir di antara kita yang tidak tepat dalam menggunakan sebagaimana patutnya.
Padahal aturan penggunaan pengeras suara sudah jelas dalam dalil agama maupun aturan pemerintah. Namun, di beberapa tempat, masih banyak masjid yang menyimpang dan menyalahi aturan yang diizinkan agama maupun pemerintah. Dalam shalat dan doa yang hanya untuk kepentingan jama’ah (dalam masjid), tidak perlu corongnya diarahkan ke luar, sehingga tidak melanggar ajaran Islam yang melarang bersuara keras dalam shalat dan doa.
“Dan janganlah engkau keraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula terlalu merendahkannya, dan carilah jala tengah di antara keduanya.” (Al Isra`: 110).
Dalam ayat lain: “Dan berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Ala’raf: 55).
Kemudian, zikir merupakan ibadah individu langsung kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, tidak perlu menggunakan pengeras suara baik ke dalam maupun ke luar.
“Dan berzikirlah (ingatlah) kamu akan Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri serta lembut tanpa mengeraskan suara pada pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (AlA’raf: 205).
Terutama di perkotaan, pengurus masjid harus benar-benar memperhatikan penggunaan pengeras suara. Di perkotaan, sudah tidak aneh lagi jika di sekitar masjid terdapat tempat tinggal non-muslim, sehingga keadaan dan kondisi mereka tetap harus dipertimbangkan. Karena kita juga perlu menelaah hadits nabi yang mengatakan: “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.” Lalu ada orang yang bertanya: ”Siapa itu ya Rasulullah (orang yang tidak beriman).” Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang tidak beriman itu adalah orang yang tidak (pernah) aman tetangganya karena gangguan (kejahatannya). Jangan sampai akibat salah dalam menggunakan pengeras suara masjid membuat tetangga-tetangga menjadi merasa terganggu, lebih-lebih jangan sampai menimbulkan kebencian tetangga yang non-muslim terhadap masjid.
Dalam suatu riwayat, pernah Ali RA membaca keras-keras bacaan shalat dan doanya, padahal orang-orang sedang tidur. Lalu Rasulullah menegurnya: “Bacalah untuk dirimu sendiri, karena engkau tidak menyeru Tuhan yang tuli dan jauh. Sesungguhnya kamu menyeru Allah Yang Maha Mendengar dan Dekat.”
Soal pengeras suara di masjid sebenarnya sudah diatur dalam Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor: Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala. Keputusan itu ditandatangani Dirjen Bimas Islam saat itu, H.M. Kafrawi, MA., pada 17 Juli 1978.
Syarat-syarat penggunaan pengeras suara adalah perawatan penggunaan pengeras suara oleh orang-orang yang terampil dan bukan oleh yang mencoba-coba atau masih belajar. Dengan demikian, tidak ada suara bising dan berdengung yang dapat menimbulkan antipati atau anggapan tidak teraturnya suatu masjid, langgar, atau mushola. Mereka yang menggunakan pengeras suara (muazin, imam shalat, pembaca Al-Qur’an, dan lain-lain) hendaknya memiliki suara yang fasih, merdu, enak, dan tidak cempreng, sumbang, atau terlalu kecil. Hal ini untuk menghindarkan anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid, dan bahkan jauh daripada menimbulkan rasa cinta dan simpati dari mereka yang mendengar, selain dari menjengkelkan.
Syarat-syarat yang ditentukan, seperti tidak bolehnya terlalu meninggikan suara doa, dzikir, dan shalat, harus dipenuhi, karena pelanggaran itu bukan menimbulkan simpati melainkan keheranan umat beragama sendiri atas ketidaktaatan yang bersangkutan terhadap ajaran agamanya.
Syarat-syarat lain, di mana orang yang mendengarkan berada dalam keadaan siap untuk mendengarnya, bukan dalam keadaan tidur, istirahat, sedang beribadah atau dalam sedang upacara, juga harus ditaati. Dalam keadaan demikian (kecuali azan), penggunaan pengeras suara tidak akan menimbulkan kecintaan orang, bahkan sebaliknya.
Di dalam instruksi itu juga diatur bagaimana tata cara memasang pengeras suara baik suara ke dalam ataupun ke luar. Juga penggunaan pengeras suara di waktu-waktu shalat. Secara terperinci penggunaan pengeras suara di masjid adalah sebagai berikut:
1. Waktu Subuh
Sebelum waktu subuh dapat dilakukan kegiatan-kegiatan dengan menggunakan pengeras suara paling awal 15 menit sebelum waktunya. Kesempatan ini digunakan untuk pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dimaksudkan untuk membangunkan kaum muslimin yang masih tidur, guna persiapan shalat, membersihkan diri, dan lain-lain.
Kegiatan pembacaan ayat suci Al-Qur’an tersebut dapat menggunakan pengeras suara ke luar. Sedangkan ke dalam tidak disalurkan agar tidak mengganggu orang yang sedang beribadah dalam masjid.
Adzan waktu subuh menggunakan pengeras suara ke luar.
Shalat subuh, kuliah subuh, dan semacamnya menggunakan pengeras suara (bila diperlukan untuk kepentingan jama’ah) dan hanya ditujukan ke dalam saja.
2. Waktu Dzuhur dan Jum’at
Lima menit menjelang dzuhur dan 15 menit menjelang waktu dzuhur dan Jum’at supaya diisi dengan bacaan Al-Qur’an yang ditujukan ke luar.
Demikian juga suara adzan bilamana telah tiba waktunya.
Bacaan shalat, do’a, pengumuman, khutbah, dan lain-lain menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke dalam.
3. Ashar, Maghrib, dan Isya’
Lima menit sebelum adzan pada waktunya, dianjurkan membaca Al-Qur’an.
Pada waktu shalat datang dilakukan adzan dengan pengeras suara ke luar dan ke dalam.
Sesudah adzan, sebagaimana lain-lain waktu hanya ke dalam.
4. Takbir, Tarhim, dan Ramadhan
Takbir Idul Fitri, Idul Adha dilakukan dengan pengeras suara ke luar. Ketika Idul Fitri dilakukan pada malam 1 Syawal dan hari 1 Syawal. Pada idul Adha dilakukan 4 hari berturut-turut sejak malam 10 Dzulhijjah.
Tarhim yang berupa do’a menggunakan pengeras suara ke dalam. Dan tarhim dzikir tidak menggunakan pengeras suara.
Pada bulan Ramadhan sebagaimana biasa pada siang dan malam hari, diperbanyak pengajian, bacaan Al-Qur’an yang ditujukan ke dalam seperti tadarusan dan lain-lain.
Belajar dari apa yang dialami Haji Sayed tentunya ini adalah bentuk ketidaktahuan pemerintah dan pengurus masjid tentang aturan penggunaan pengeras suara, atau memang sengaja pura-pura tidak tahu. Semoga kejadian seperti ini apalagi sampai ada stigmatisasi sesat pada seseorang tidak terulang lagi untuk generasi ke depan.
Sumber: Perspektifnews.com
Bagaimana pendapatmu ? Silahkan beropini dengan sopan, mau pro atau kontra ? 

Sabtu, 20 Juni 2015

Anakku Dihukum Mati Gara2 Fitnah Istriku ~ Kisah Sedih, Pasti Nangis !


Sahabat KIM...

Penyesalan itu selalu diakhir, dan saat penyesalan itu datang semuanya sudah tak berguna lagi. Yang ada hanyalah kesedihan dan luka yang tak berujung...
Kisah nyata ini ditulis oleh seorang laki laki yang harus tegar menghadapi kehidupannya yang tragis harus kehilangan anaknya yang justru digugat hukuman mati oleh istrinya sendiri di negeri seberang, Malaysia. 

Sangat sedih dan mengharukan. Siapkan tissue untuk mengusap air matamu... Silahkan dibaca...

25 tahun yang lalu, 

Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. 

Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. 

Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku.. Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia. 

22 tahun yang lalu, 

Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. 

Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami.. 

Ya sudahlah. 

Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah. 

19 tahun yang lalu, 

Kamilaku gesit dan lincah. 

Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak 'Horeee, Mila bisa terbang'. 

Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Mila. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah. 

Dan Kania tak jarang berteriak, "Mila sayaaang...."

 jika sudah terdengar suara 'Prang'. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca.. 

Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang 

"Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?"

18 tahun yang lalu, 

Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. 

Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. 

"Nanti kalau sudah besar, Mila mau jadi pemain bola !" 

tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. 

Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. 

"Horee.... Mila jadi pemain bola.......!!"

17 Tahun yang lalu 

"Mila...Mila.... Bapak kan sudah bilang, jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau Mila nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini...."

Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Mila menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. 

Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan.... 

"Mila......!!!" 

Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. 

Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. 

Ya Tuhan, bagaimana ini....

Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. 

Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata

"Coba saja kalau kamu tak belikan Mila bola......!"

15 tahun yang lalu, 

Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. 

Kania mulai banyak mengeluh dan Mila mulai banyak dibentak. 

Aku hanya bisa membelainya....

Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. 

Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. 

Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia . 

13 tahun yang lalu, 

Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. 

Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. Aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. 

Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar. 

10 tahun yang lalu, 

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam KAMAR. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. 

"Anakku cantik, seperti ibunya. Biar cantik kalo kere ya kelaut aje...."

Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. 

Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga. 

"Sabar ya, Nak....!" hiburku. 

"Pak, Mila pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!" 

pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku.... maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. 

Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. 

Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya tertambat di bangku SMP. 

7 tahun yang lalu, 

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut. 

Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia . Alasannya sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.. 

Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi....? 

Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. 

Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja. 

4 tahun lalu, 

Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana . Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. 

Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. 

Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. 

Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. 

Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. 

Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga....! 

3 tahun 6 bulan yang lalu, 

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia , kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya.....

Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya...!

Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh....!

Lagipula kenapa dia harus membunuh....?

Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. 

Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. 

Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah. 

2 tahun 6 bulan yang lalu, 

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. 

Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. 

Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? 

Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku.... 

Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia . Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. 

Lihatlah, dia kurus sekali....!

Dua matanya sembab dan bengkak ! 

Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada... 

Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku... memelukku erat... seakan tak ingin melepaskan aku. 

"Bapak, Mila Takut...!! 

Aku memeluknya lebih erat lagi !!

Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya... biarkan aku saja yang dihukum mati !

"Kenapa, Mila... kenapa kamu membunuhnya sayang?"

"Lelaki tua itu ingin Mila tidur dengannya, Pak.... Mila tidak mau ! Mila dipukulnya.... Mila takut, Mila dorong dia sekuat tenaga.... dan dia jatuh dari jendela kamar.... Dan dia mati.... Mila tidak salah kan , Pak...?"

Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. 

Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon keringanan hukuman pada wanita itu. 

2 tahun yang lalu, 

Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. 

Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan, blass....!! Kamilaku kini tergantung. 

Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka.


Aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. 

Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.

"Kania....?"

"Mas Har, kau ... !"

"Kau.... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!"

"Mila...? Dia... dia... Mila ??!!" 

serunya getir menunjuk jenazah anakku. 

"Ya, dia Mila anak kita.... Mila yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar....." kataku lirih.

"Tidak ... tidaaak ... !!" 

Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. 

Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. 

Bunyinya :

"Terima kasih Mama.... "

Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya. 

Setahun lalu, Sejak saat itu istriku gila. 

Tapi apakah dia masih istriku? Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. 

Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. 

Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, "Mila sayaaang... apalagi yang pecah, Nak...?"

Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hati dan hidupku !

       ~~~~~~ ### ~~~~~~

Semoga kisah ini bisa kita ambil hikmahnya, kehidupan ini terus berputar... Hidup ini memang pilihan, pertimbangkanlah dahulu sebelum memutuskan sesuatu agar takkan ada penyesalan di akhirnya....

Semoga bermanfaat, silahkan dishare...



Kisah menarik lainnya :







Jumat, 19 Juni 2015

Kisah Ramadhan, Zubaida Jomaa dan Hujatan Tetangga - Inspirasi


Setiap Ramadhan, Zubaida Jomaa muslimah berumur 44 tahun, berprinsip berpuasa adalah kewajiban ibadah yang mesti dijalankan olehnya dan keluarganya. Dia selalu berjuang mengajak keluarganya untuk benar2 bisa berpuasa dengan khusuk setiap hari dan bisa berbuka puasa bersama setidaknya sekali dalam seminggu. Itu dilakukan untuk memberi nuansa Islam di tengah keluarganya. Nuansa Islam, di tengah kehidupan negeri tanggo "Brasil", adalah sesuatu yang sangat mahal.

Dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik, pemeluk agama Islam di sana tidak menonjol.

“Saya ingin melihat keluarga saya duduk bersama selama bulan suci,” ujar Zubaida, seperti ditulis dalam Islamonline.net.

Meskipun hidup dalam masyarakat barat, wanita muslim itu ingin mengajarkan anak-anaknya arti puasa selama bulan Ramadhan. Dia menjelaskan, anak-anaknya sudah belajar berpuasa sejak umur sembilan tahun. Saat itu, banyak tetangga Zubaida yang mengutuk dan menghujat dirinya karena mereka menganggap dia tidak manusiawi telah memaksa anak kecil untuk berpuasa.

“Tapi saya tahu apa yang saya lakukan sesuai agama Allah dan itu baik untuk menanamkan nilai Islam kepada anak saya,” tegas dia.

Selama Ramadhan, seperti Muslim di belahan bumi lain, Muslim di Brazil mendedikasikan waktu mereka untuk menjadi lebih dekat kepada Allah. Mereka lebih banyak berdoa, menahan diri dari hawa nafsu, dan melakukan perbuatan baik. Momentum Ramadhan juga dipergunakan untuk mempelajari Alquran yang mulia.

“Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan berkah dalam kehidupan Muslim manapun di seluruh dunia,” kata Zubaida.

Menurut sensus 2001, ada 27.239 Muslim di Brasil. Namun, Federasi Islam Brasil menempatkan angka pada sekitar satu setengah juta. Mayoritas Muslim adalah imigran keturunan Suriah, Palestina, dan Lebanon yang menetap di Brasil pada abad kesembilan belas selama Perang Dunia I dan pada 1970-an. Sebagian besar muslim tinggal di negara bagian Parana, Goias, Riod de Janeiro dan Sao Paulo. Ada juga jumlah masyarakat Muslim yang signifikan di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul.

Muslim di Brasil masih kesulitan dalam mengajarkan Islam kepada anak-anaknya. Salah satu contohnya, orangtua umumnya sulit mengajar anak-anak mereka untuk berpuasa selama bulan suci. Hal itu karena masih banyak masyarakat Brazil yang tidak mengerti ajaran agama Islam.

“Banyak orang yang mengkritik dan menuduh yang tidak baik kepada keluarga saya, karena mereka tidak mengerti, mereka tidak paham akan arti dan nilai puasa Ramadhan.” ujar Zubaidah.

Akan tetapi, dia selalu mengajarkan bahwa Ramadhan adalah saat refleksi. Muslim merasa murni dari kotoran dan berpuasa menjadikan Muslim bersikap lebih baik.

“Saya senang melihat anak-anak saya berpikir tentang makna Ramadhan yang sama,” tutup Zubaida.

***

Ini seharusnya menjadi koreksi untuk kita umat Islam di Indonesia yang mayoritas muslim. Sudah semestinyalah kita belajar dan mengambil hikmah dari kisa Zubaidah ini. Silahkan di renungkan dan sebutkan apa yang semestinya kita dapatkan dari Muslimah kuat ini...



Sabtu, 09 Mei 2015

Heboh ! Beredar Foto Murid SMP Melecehkan Guru !

Sahabat KIM...
Baru-baru ini kalangan netizen dibuat heboh karena beredarnya sebuah foto yang cukup memalukan dan mencoreng dunia pendidikan yaitu dimana seorang murid sedang melecehkan gurunya sendiri. Seperti yang kita lihat didalam foto bahwa kejadian tersebut terjadi diruang kelas dan dari baju yang Ia kenakan terlihat bahwa siswi tersebut masih duduk di bangku SMP.

beredar foto murid lecehkan guru

Terlihat jelas bahwa didalam foto tersebut siswi SMP itu seolah sedang melecehkan gurunya, mulai dari hendak memukul hingga membelakangi guru tersebut dengan pingggul keatas seolah tak takut sedikitpun. Dengan pose-pose yang seakan melecehkan itu, terlihat bahwa siswi ini terlihat 'puas' melakukan hal tesebut. Namun sampai berita ini ditulis belum ada keterangan di mana sekolah tempat kejadian, kapan foto itu diambil dan diunggah ke jejaring sosial.

Murid lecehkan guru

Entah nyata atau hanya efek photoshop tetapi foto-foto tersebut telah banyak mendapat komentar yang beragam dari netizen dunia maya, berikut komentar-komentarnya.

@Raden Sentanu Sambudi
Bu Police ini editan pa beneran, lw beneran saya pikir simalakama juga buat pak guru satu ini, ditabok kena ham, di e**** kena pelecehan. Nah pantasnya diapain ni siswi yng beginian ni?

@Herman Adriansyah
Melecehkan guru sma sja mlecehkan orang tua cndiri. Guru adlah pahlwan tanpa jasa. Brengsek sekali siswi itu klo d biarkan akn tumbuh siswi2 lain ... Kluarkan z n jngan smpe d trima d skolah mna punn

@Bayuo Prayoga
Biasany itu murid otaknya udah kosong coba kepala nya di belah

@Itank Hariezta
Contoh pelajar yg baik, maksud.a baik digantung ditiang bndera depan skolah

@Pakde Semar
Sungguh tak patut ditiru ulah pelajar ini,, inikah!!!!!!

@Ariady Ariz Cahya
tuh cewek anak l**** .makan duit haram pantesan kelakuanya kaya gtu.

Bagaimana menurut pendapat anda jika hal ini benar-benar terjadi ? semoga generasi penerus bangsa lebih menghormati guru karena mereka pahlawan tanpa tanda jasa.

Rabu, 04 Maret 2015

PERJUANGAN SAMPAI GARIS FINISH + VIDEO MOTIVASI

 

Assalamualaiku Sahabat KIM...

Kisah nyata ini benar2 terjadi di bulan Oktober 1968 di sebuah stadion di Mexico City. Tepatnya ketika di daerah Amerika Latin itu menjadi tuan rumah perayaan Olimpiade ke 19. Saat itu, Minggu sore yang panas, perlombaan lari Maraton pria dimulai pukul 03.00 waktu setempat.

Salah satu peserta lomba adalah John Stephen Akhwari, seorang pelari tingkat dunia di tahun 1960 - 1970. Yang menarik, bukanlah dia yang ada paling depan di garis finish dan meraih juara medali emasnya. Justru dialah yang paling akhir tiba menyelesaikan pertandingan ini. 

Diantara 74 peserta, 17 orang tak dapat melanjutkan pertandingan karena cedera. Setelah melewati jarak 19 km, di total 42 km rute yang harus dilalui, Akhwari berdesakan diantara beberapa pelari dan terjatuh. Lututnya luka dan lepas engsel lutut, bahunyapun terluka sangat parah, darah segar mengucur sangat banyak. Para tim medis menyarankan agar dia mengundurkan diri karena lukanya yang parah.

Namun Akhwari tetap kukuh untuk melanjutkan pertandingan. Berkali kali Akhwari diminta mundur, ia tetap menyangkal. Ia tetap bertekad untuk berlari, meskipun itu bukan gerakan berlari.... hanyalah gerakan berjalan pincang dan lambat, terseok seok sambil menahan sakit yang luar biasa....!!
Langkahnya tak mulus lagi, bahkan sempat terhenti ketika memasuki stadion. Sejenak ia meringis menahan sakit, tetapi tekadnya sungguh mengalahkan segalanya. Dengan kaki berbalut perban hingga mencapai garis finish.

Tepat jam 06.00 petang, semua peserta sudah tiba di garis finish. Matahari sudah tenggelam, pemenang lari maraton sudah diumumkan. Para pemburu beritapun mewawancarai para juara2 maraton itu. Lampu - lampu stadion sebagian sudah dimatikan karena penonton tersisa beberapa ribu orang saja.

Namun, di jam 07.00, setelah satu jam lomba usai... tiba - tiba penonton dikejutkan oleh pengumuman dari pengeras suara. "Pertandingan ternyata belum usai ...!! .... Masih ada 1 pelari yang akan memasuki stadion......!!" Gemuruh tepuk tangan pun membahana saat seorang pelari bernomor 36 itu.

Setelah usai, Akhwari diwawancarai dan ditanya oleh para wartawan yang awalnya meliput para juara, kini semua beralih padanya. Akhwari menjawab :

 "Negara saya tidak mengirim saya 10.000 mil hanya untuk memulai perlombaan, mereka mengirim saya untuk menyelesaikan lomba....!! "
  
Akhwari tidak ingin mengecewakan negara dan seluruh rakyat Tanzania. Ia tahu beban apa yang diletakkan di pundaknya dan ia mau bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. 
Gelar " A King Withaout Crown " atau " Raja tanpa Mahkota " disematkan padanya.
">Sejak saat itu, John Stephen Akhwari telah dihormati dan dilambangkan sebagai contoh hidup dari keberanian dan tekad.
Pada tahun 1983, ia dianugerahi Pahlawan Nasional Medal of Honor. Pada tahun 2000, ia diundang ke Olimpiade di Sydney, Australia dan 2008 ia diundang di Beijing sebagai duta goodwill untuk menginspirasi atlet Olimpiade untuk Olimpiade 2008.

">Sahabatku semua... dalam kehidupan dan kebaikan...">bukan bagaimana Anda memulai balapan, yang terpenting adalah bagaimana anda bisa menyelesaikannya. ">Di mana pun posisi Anda berperan di hari ini, jika Anda sudah berjalan atau mendapat ujian, jika Anda telah jatuh dan dalam situasi yang buruk, apakah itu kesalahan Anda sendiri atau orang lain yang telah menjerumuskan Anda.... biarkan John Stephen Akhwari memotivasi Anda.


"Selesaikan lomba lari itu...!! Berjalan atau berlari, tersandung atau pincang, tidak masalah. Selesaikan lomba. Memperbaiki diri dan menyelesaikan lomba dalam kehidupan....!!

Semoga menginspirasi....

Rabu, 21 Januari 2015

Mahasiswi ini Dihujat di FB dan Berhutang 1 Milyar Karena Bikin Arisan Online



Hati - hati, Ini bisa menjadi peringatan bagi Anda yang menekuni bisnis online. Jangan hanya karena tergiur oleh keuntugan instant, anda ikut ikutan berinvestasi di tempat yang tak jelas dan akhirnya bukan untung yang didapat, tapi justru buntung. Mahasiswi ini, lewat arisan online yang didirikannya, Mega Retno Palufi harus menanggung utang hingga Rp 1 miliar.

Selasa, 20 Januari 2015

Nonton Film Kisah Ashabul Kahfi Episode 3, Subtitel Indonesia


Assalamualaikum Sahabat KIM...

Setelah kita baca Kisah Keajaiban Ashabul Kahfi  yang menarik dan ada 11 hikmah dari kisah Ashabul Kahfi yang bisa diamalkan di dalamnya, Yuk kita nonton filmnya episode 3 dibawah ini...

11 Hikmah Kisah Ashabul Kahfi yang bisa di amalkan


Assalamualaikum Sahabat KIM...

Kita sudah membahas Kisah Keajaiban Ashabul Kahfi dengan lengkap dan film Ashabul Kahfi yang menarik. Lalu apa sebenarnya hikmah dibalik Kisah Ashabul Kahfi yang ada dalam Al Qur'anul Karim bisa kita ambil dan diterapkan dalam kehidupan kita ?

Kisah Keajaiban Ashabul Kahfi, Bukti Keagungan Allah



Dalam surat Al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khaidir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat

Senin, 19 Januari 2015

SITI MARYAM, Perempuan paling ikhlas di dunia ( Kisah Inspirasi )

Siti Maryam, ibu dari NabiAllah Isa as. yang disebut sebagai wanita paling ikhlas di dunia karena kesabarannya menghadapi cobaan berat yang di ujikan kepadanya. Siapakah beliau sebenarnya ?